Home » » Waspada Maling Gentayangan di Siang Hari

Waspada Maling Gentayangan di Siang Hari

Written By Unknown on Tuesday, 19 March 2013 | 17:15

span>Maling Gentayangan di Siang Hari

Tanggal 19 Maret 2013, pukul 10.04 di Kompleks Perumahan Cluster Dinar Indah Tembalang Semarang dua orang dengan mengendarai sepeda motor bermesin matic berhenti di depan sebuah rumah yang baru saja ditinggalkan penghuninya karena mengunjungi keluarga ke Surabaya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, di mana tiga rumah juga disatroni maling dengan menggasak semua peralatan elektronik di kompleks perumahan yang sama dalam dua bulan terakhir, yang juga di lakukan di siang bolong. Saya pun mendekati dua orang itu, yang seorang tetap ada di atas motor dengan mesin tetap menyala sedangkan yang seorang sedang berdiri di depan pintu sengaja mengetuk-ngetuk. Saat saya mendekatinya, ia sangat ramah sembari mengucapkan salam.

'Slamat siang pak' sapa pria yang ada di atas motor.

'Slamat siang' jawab saya. 'Cari siapa?

'Antar tagihan pak' jawab pria yang sedang berdiri di depan pintu sembari memasukan sesuatu ke dalam tasnya dan berjalan mendekati saya.

'Tagihan apa?'

Ia kelihatan gerogi dan tidak sempat menjawab pertanyaan saya, justru bertanya kembali,

'Ini rumahnya Pak Zainuddin kan? yang kerja di PLN?'

Saya pun semakin curiga

'Ooo bukan pak, ini rumahnya Pak Yuda'

'Berarti kami salah, kami dari PT YKSI' sambil menunjukkan amplop kecil berwarna putih dengan tulisan 'PT YKSI' yang ditarik dari sakunya.

'Nama Bapak siapa' tanya saya.

Ia semakin tak menguasai dirinya

'A,..Andreas pak' sambil membonceng ke motor temannya.

'Permisi pak, maaf mariii' pintahnya kemudian motor itu berlalu dari hadapan saya.

Karena curiga saya pun secepatnya memperhatikan plat motornya tetapi tidak sempat memperhatikannya kode huruf belakangnya. Saya hanya mengingat nomor platnya dengan nomor polisi H 3078…

Karena penasaran dengan apa yang baru saja saya saksikan. Saya pun segera memeriksa pintu rumah Pak Yuda, dan benar grendel, kusen dan daun pintu tempat grendel di letakkan rusak parah, beruntung pintu masih terkunci.

Peristiwa siang itu berlalu begitu cepat tetapi saya sempat mengenali ciri-ciri umum kedua pria itu. Pria yang duduk di atas motor matic warna  gelap tetapi tidak sempat memperhatikan merek motornya, umur kira-kira 30 tahun keatas, tinggi badan sekitar 160 cm, postur tubuh ideal, kulit agak gelap, dialeg jawa dan wajah opal, ada bekas-bekas jerawat. Sedangkan yang seorang kulit sawo matang, umur juga kira-kira diatas 30 tahun, tinggi kira-kira 170 cm, berbadan besar tapi tidak terlalu gemuk, wajah segi empat dan kental dengan dialeg jawa.

Mereka sepertinya telah terbiasa melakukan aksinya dan terlatih. Bayangkan di rumah tepat samping Pak Yuda ada tukang bangunan yang sedang sibuk bekerja sedangkan di taman tepat di depan ada seorang ibu sedang menjemur pakaian dan beberapa orang lainnya lalu lalang dengan kendaraan tetapi mereka tidak terpengaruh.  Sementara saat saya menanyainya mereka telah mempersiapkan alasan-alasan logis dan siapa pun akan memercayainya. Mereka juga sangat sopan, ramah, membawa tas dan berpakaian rapih layaknya orang kantoran serta melancarkan aksinya saat-saat orang sedang sibuk. Jadi, mereka sangat professional dan terlatih.

Kejahatan juga berevolusi

Kehidupan orang-orang kota yang serba sibuk dan cenderung cuek serta tidak peduli telah membuat para pelaku kejahatan berevolusi pula. Dahulu para pencuri khususnya spesialisai maling rumahan cenderung melakukan aksinya di malam hari dengan sembunyi-sembunyi tetapi kini  telah berevolusi. Sekarang, mereka melancarkan aksinya di siang hari dengan berpura-pura sebagai petugas yang menawarkan jasa atau instansi tertentu seperti petugas PLN, tukang servis, sales dan sebagainya. Ada juga yang berpura-pura sebagai kerabat pemilik rumah dengan alasan mencari alamat. Yang menarik mereka (maling) sangat ramah, sopan dan rapih lebih ramah dari tetangga sendiri. Ya, itulah dampak negative sisi lain dari kehidupan perkotaan, yang telah dimanfaatkan dengan apik oleh para pelaku kejahatan.

Pelajaran berharga

Dengan berevolusinya tindakan-tindakan kejahatan yang sedikit tidaknya dipicu oleh kecenderungan orang kota yang heterogen, sibuk dan cuek seharusnya menjadi pelajaran berharga. Penduduk perkotaan walaupun sibuk dengan tuntutan hidup yang sangat tinggi seharusnya tidak melupakan dirinya sebagai mahkluk sosial, khususnya di lingkungan tempat tinggal. Peduli dan saling memperhatikan satu dengan yang lainnya. Setidaknya memperhatikan orang-orang asing yang memanfaatkan situasi untuk melakukan kejahatan. Apalah artinya berusaha sekeras mungkin mencari penghidupan tetapi ternyata habis juga digasak maling. Toh, juga bukan harta yang akan mengusung kita ke kuburan saat ajal menjemput, ujung-ujungnya juga tetangga pasti berperan. Seperti ungkapan,'tetangga itu adalah saudara terdekat, lebih dekat daripada saudara kandung sekali pun'.

Akhirnya ingatlah pesan Bang Napi, 'Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat tetapi juga karena ada kesempatan, waspadalah, waspadalah!'. Waspada itu saling memperhatikan dan peduli, tidak cuek dan saling melindungi dari para pembuat kejahatan. Waspadalah dengan kejahatan yang sedang berevolusi. Bagi masyarakat kota Semarang hati-hatilah dengan dua pria yang saya sebutkan di atas. Terima Kasih. Semoga bermanfaat.

Syarif Hidayatullah 20 Mar, 2013


-
Source: http://peristiwa.kompasiana.com/regional/2013/03/20/3/544316/waspada-maling-gentayangan-di-siang-hari-.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
Related Articles


0 comments:

Post a Comment

 
Support : blogger.com | google.com | youtube.com
Copyright © 2013. Blogger Dalam Berita - All Rights Reserved
Template Created by google Published by google
Proudly powered by Blogger