Home » » Di Hadapan Senja

Di Hadapan Senja

Written By Unknown on Thursday, 21 March 2013 | 17:53

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
"Senja sore ini bagus ya" aku berkata sambil memakan ice cream cokelat disampingnya. Dia tak menjawab, masih berkonsentrasi dengan sebatang rokoknya yang entah keberapa, tak bisa dihitung.

"Masih tetep habis 2 pack rokok 1 hari kah?" dan untuk kesekian kalinya ucapanku tak dihiraukan. Dia masih tetap sama, selalu diam ketika melihat pantai. Menghabiskan 5 rokok dengan melihat deburan ombak. Ketika sulutan rokok terakhir habis, barulah dia akan mengajakku berbicara. Kebiasaan lamanya yang tak akan pernah ku lupakan. Dan akhirnya aku pun hanya bisa diam menunggunya.

"Kamu masih tetap cerewet ya, nggak ada yang berubah dari kamu. Senyumanmu. Caramu tertawa." Dia berkata secara tiba-tiba. Dan itu membuatku kaget. Sangat kaget tentunya.

"Hahaha. Aku ya aku. Beginilah aku. Sejak dulu tak akan berubah." Aku berkata sambil menatap hamparan pantai yang indah. Matahari mulai terbenam, dan tiba-tiba Aufaa menggenggam tanganku, menatap tajam mataku, dan mengingatkan kenangan indah itu dulu.

#----#

5 Tahun yang Lalu.

"Kayla, mataharinya sudah mau terbenam itu. Waaaaa. Bagus yaaa" Aufaa melihat ke arah matahari yang mulai menenggelamkan sinarnya. Ini untuk pertama kalinya aku mengajak Aufaa pergi jalan-jalan ke tengah sawah. Dan ini juga untuk pertama kalinya dia ku ajak melihat sunset. Aku hanya ingin melihat dia tersenyum , tentunya setelah 10 hari yang lalu dia di tinggal pergi untuk selamanya oleh Ibunya.

"Iya bagus dong faa. Mau aku fotoin?" Aku menawarkannya.

"Mau mau mau" Aufaa melompat dan segera mengambil posisi berdiri di tengah sawah. Aku bersiap mengambil kamera dan mengarahkan kepadanya. Dan aku menjadi kaget ketika tak sengaja melihat dia menitikkan air mata yang belum ku lihat selama ini. Aku pun berjalan menghampirinya.

"Kamu kenapa faa?" Aku bertanya pelan.

"Oh nggak apa kok Kay, ayo katanya mau foto" Dia berusaha tegar. Dan aku tau itu, karena aku percaya dia sanggup tegar menjalani ini semua.

Setelah prosesi foto-foto usai, aku masih tetap duduk di gubug sawah itu. 6 tahun sudah aku mengenal Aufaa. Jujur, aku jatuh cinta pada Aufaa. Tapi tak pernah ku ungkapkan apa dan bagaimana perasaanku. Aku hanya tak ingin persahabatanku dan dia menjadi rusak.

"Aufaa, kamu mau melanjutkan kuliah dimana?"

"Masih nggak tau Kay, aku ikutin aja apa kata Ayah. Kamu gimana Kay? Jadi ambil yang dimana?'

"Aku udah keterima di Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Jogja itu, aku ambil jurusan Film & Fotografi. Dan rencanya aku mau berangkat nanti malam ke sana buat registrasi dan sekalian pindah. Maaf ya aku baru bilang ke kamu. Soalnya aku takut buat ninggalin kamu."

"Setelah ibu yang pergi, sekarang kamu pergi juga ya." Dia berkata pelan.

"Aku pergi juga buat kuliah faa, buat sementara. Aku juga bakal tetep ada buat kamu, kita kan bersahabat faa. Ini aku punya hadiah buat kamu." Aku mengelurakan hadiah untuk Aufaa dari dalam tasku, memberikannya pada Aufaa.

"Aku pulang dulu faa. Aku sudah janji sama Bunda untuk tak lama-lama diluar rumah. Baik-baik faa" Aku memegang wajah Aufaa, membalikkan badan dan pergi.

Aufaa tak mengejarku. Sikapku begini saja sebenarnya juga membuatku terluka. Ah, andai saja persahabatanku dengannya tak kuselipi dengan cinta. Mungkin tak akan begini jadinya.

Sejak kejadian itu, Aufaa tak pernah lagi menghubungiku. Nomer handphonenya tak lagi aktif, sudah ganti mungkin. Bahkan akun facebook dan twitter tak lagi aktif. Dan alamat rumahnya di Malang sudah berganti penghuni. Aku tak tau dia dimana, dan sedang apa. Tapi yang aku tau, aku masih memendam rasa padanya. Pada Aufaa.

Pernah suatu hari ada telepon masuk dari nomer yang disembunyikan. Dan aku tau bahwa itu suara Aufaa, dia berkata "Tunggu aka ya Kayla. Kalau sudah sukses dan besar nanti, aku akan datang menemuimu. Ku penuhi janjiku untuk mengajakmu berlibur ke Pulau Lombok. Tunggu aku" Hanya berkata begitu dan telepon pun mati.

Dan karena itulah aku percaya, bahwa Aufaa akan kembali padaku.

#---#

Aufaa masih menggenggam tanganku dan menatap mataku,

"Kayla, kenapa kamu nggak pernah bilang kalo kamu punya perasaan itu sama aku? Kenapa kamu seneng ninggalin aku selama 5 tahun ini? Kamu bikin aku menyesal selama ini, kenapa aku nggak pernah bilang kalo aku juga suka kamu. 5 tahun lalu, kadomu, itu yang bikin aku menyesal kenapa aku nggak pernah berani buat ungkapin semuanya."

"Aufaa, maaf aku .."

"Nggak perlu ada yang di maafkan. Aku sayang kamu Kayla. I love you. Will you marry me?"

Aku sedikit tercengang, dan tanpa sadar aku mengangguk pelan. Aufaa membuat perubahan cepat di hidupku. Deburan ombak, matahari terbenam yang sama, angin yang sama, dan cinta yang masih tetap sama walau sudah 11 tahun berlalu sejak awal aku mengenal Aufaa. Aku bersandar pada bahu Aufaa. Ketenangan yang selama ini ku hilangkan sendiri kini kembali ku dapatkan.

Aku mencintaimu dengan perasaan yang sama.

Ntah untuk awal kali, pertengahan, sampai kita berpisah nanti.

Dibawah langit senja kita bersama.

Dihadapan pantai ini kita mengikat janji.

Di atas pasir ini kita terduduk berdua.

Tak berubah, sejak dulu dan sampai kapanpun.

Pakne Vel@ros4 22 Mar, 2013


-
Source: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/03/22/2/544320/di-hadapan-senja-.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
Related Articles


0 comments:

Post a Comment

 
Support : blogger.com | google.com | youtube.com
Copyright © 2013. Blogger Dalam Berita - All Rights Reserved
Template Created by google Published by google
Proudly powered by Blogger