Home » » SBY, Presiden (yang selalu) Teraniaya (bagian 1)

SBY, Presiden (yang selalu) Teraniaya (bagian 1)

Written By Unknown on Thursday, 21 March 2013 | 18:57

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!

Anda mungkin sudah tahu bagaimana sejarah terpilihnya SBY sebagai presiden pada 2004 lalu. SBY diposisikan sebagai calon teraniaya karena dilecehkan oleh keluarga presiden Megawati saat itu (khususnya Taufik Kiemas). Hasilnya, SBY mendapatkan simpati yang luas. Walaupun masih harus dikaji secara ilmiah, apakah keterpilihannya itu semata-mata karena teraniaya atau karena hal lain. Logika saya mengatakan, tidak mungkin hanya karena teraniaya seseorang dipilih. Masih terdapat faktor lain yang mendukung, termasuk kualitas dan kredibilitas orang yang teraniaya tersebut.

Selama masa pemerintahannya, ternyata penganiayaan terhadap SBY masih berlanjut. Sadar tidak sadar, kalangan oposisi dan kelompok non pemerintah yang gemar mengkritik, membantu SBY selalu dalam posisi teraniaya. Dalam berbagai bidang.

Pada periode pertama pemerintahannya, SBY selalu dikritik habis oleh kelompok oposisi dan berbagai kalangan yang tidak suka dengan gaya kepemimpinannya. SBY dianggap sangat lemah, lambat, plin plan dan peragu. Stigma itu menempel kuat sampai sekarang. Mereka berharap, stigma itu akan membuat SBY gagal melanjutkan masa pemerintahannya. Ternyata masyarakat berkata lain. Mereka tetap memilih SBY sebagai presiden untuk periode yang kedua.

Kelompok yang tidak suka SBY semakin menjadi-jadi ketidaksukaannya. Mereka menunjukkan cara kritik yang demonstratif, terbuka dan tidak pandang bulu. Nyaris semua kebijakan SBY disalahkan. Berbagai pencapaian kalah oleh banyak kelemahan. Ibarat susu sebelanga yang sia-sia karena setitik nila atau beberapa nila. Atau kemarau panjang yang terhapus hanya oleh hujan deras beberapa menit saja.

Aniaya Media

Berbagai kekuatan kelompok-kelompok non SBY menggunakan berbagai cara untuk merusak pemerintahan ini. Yang paling kentara adalah di media massa. Saat ini, media yang paling kuat penetrasi publiknya adalah televisi. Dua televisi yang muatan beritanya paling kuat adalah Metro TV dan TVOne. Kedua media inilah yang amat rajin menelanjangi kinerja SBY. Ada kesalahan sedikit saja, pasti diserang habis-habisan, termasuk musibah yang terjadi baru-baru ini yaitu kebakaran di kantor Sekretariat Negara. Dicari-cari kesalahan dan kaitan dengan berbagai kemungkinan. Kalau orang yang netral, hanya mengatakan "sistem keamanan di setneg lemah." Tapi, kelompok non SBY mencari hal lainnya.

Celakanya, SBY tidak punya corong untuk menkounter berita-berita dari Metro TV dan TVOne. Sebenarnya, SBY punya peluang tetap memanfaatkan TVRI untuk kepentingannya, seperti yang dilakukan oleh rezim Soeharto. Atau 'meminjam' stasiun televisi lain yang masih mendukung kepemimpinannya. Tapi SBY kelihatannya tidak mau menggunakan hal tersebut. Apalagi kalau harus menerabas aturan. Ia hanya sesekali saja menerima tawaran wawancara khusus dengan RCTI atau SCTV. TVRI hanya dimanfaatkan oleh berbagai kementrian dengan programnya masing-masing.

Media lainnya pun tidak ada. Kalau mau disebut mungkin hanya Jurnal Nasional, media cetak yang isinya sangat mendukung SBY. Tapi, kekuatan Jurnas tidak seujung kuku media lain. Apalagi media itu hanya dikelola oleh simpatisan saja. Bukan atas perintah dan kemauan SBY.

Para opisisi dan kelompok anti SBY tidak menyadari, bahwa serangan melalui media massa akan menjadi bumerang. Benar, banyak sekali agenda setting yang berhasil membuat pemerintah SBY terkesan begitu lemah. Namun, masyarakat tentu bisa melihat, selain kelemahan, SBY juga punya berbagai pencapaian. Yang bahkan diakui oleh berbagai kalangan di dalam dan di luar negeri. Jika media massa non SBY terus menerus menyerang, masyarakat akan muak sendiri. Dan itu sudah terlihat saat ini. Sebagian orang sudah muak dengan berita dan talkshow di Metro atau TVOne. Kata mereka, "Sama sekali tidak berimbang!".

Secara langsung maupun tidak langsung, serangan media massa ini justru menguntungkan rezim SBY. Apalagi SBY tidak berusaha melakukan konter lewat media. Tidak berusaha juga mengintervensi media. Kebiasaan SBY hanya menghimbau agar media massa lebih adil dalam menyampaikan informasi dan berita. Hanya menghimbau. Lagi-lagi, SBY teraniaya yang kali ini dilakukan oleh media massa, khususnya televisi. SBY juga yang diuntungkan. Kalau boleh tiga periode, saya yakin SBY akan terpilih lagi.

(bersambung...)

Dhimas Soesastro 22 Mar, 2013


-
Source: http://polhukam.kompasiana.com/politik/2013/03/22/2/544339/sby-presiden-yang-selalu-teraniaya-bagian-1.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
Related Articles


0 comments:

Post a Comment

 
Support : blogger.com | google.com | youtube.com
Copyright © 2013. Blogger Dalam Berita - All Rights Reserved
Template Created by google Published by google
Proudly powered by Blogger