Home » » Taman Nasional Kutai yang Kian Terusik Ancaman Pembalak dan Perambah Hutan

Taman Nasional Kutai yang Kian Terusik Ancaman Pembalak dan Perambah Hutan

Written By Unknown on Tuesday, 19 March 2013 | 17:04

Orangutan yang ditemui di Taman Nasional Kutai (Foto: Robert/detikcom)

Samarinda - Taman Nasional Kutai (TNK), satu dari dua taman nasional yang ada di Kalimantan Timur, berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang. Sejak menyandang status taman nasional di tahun 1995 lalu hingga kini, hutan hujan tropis itu terus diusik ulah pembalak liar dan perambah hutan.

Detikcom berkesempatan melakukan perjalanan bersama belasan media lainnya ke kawasan TNK selama 3 hari sejak 15 Maret 2013 lalu. Dari ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, perjalanan darat memakan waktu kurang lebih 3 jam ke kota Bontang dan kemudian sekitar 1 jam ke Sangata, Kabupaten Kutai Timur.

Sebagian rute yang dilalui menuju Bontang di wilayah Teluk Pandan, sebenarnya sudah masuk areal kawasan TNK yang memiliki total luas kawasan hutan konservasi 198.629 hektare. Pun demikian ketika perjalanan dari Bontang menuju Sangata, yang kita temukan adalah rumah penduduk berjejer panjang ditambah dengan bangunan sarang burung walet, tanaman sawit, hingga bangunan tempat berkaraoke dan juga lokalisasi. Ya, semua itu ada di kawasan TNK yang notabene terlarang bagi siapapun untuk mendirikan bangunan maupun aktivitas perambahan hutan sebagai paru-paru dunia.

"Dulu memang hutan TNK ini rimbun. Baik itu dari Samarinda menuju Bontang maupun dari Bontang menuju Sangata. Sekarang anda bisa lihat sendiri kenyataannya," kata Kepala Balai TNK Erli Sukrismanto mencoba memberikan penjelasan.

TNK begitu kaya akan flora dan fauna yang terdiri dari 1.148 jenis flora, 32 jenis anggrek serta 254 jenis tumbuhan obat-obatan. Sedangkan untuk fauna tercatat sedikitnya memiliki 80 jenis mamalia dimana 22 jenis diantaranya merupakan mamalia dilindungi. Selain itu, TNK juga memiliki 368 jenis burung serta sekitar 1.500 individu orangutan jenis Morio.

Mungkin saja tidak banyak masyarakat mengetahui bahwa TNK juga memiliki pohon ulin (Eusideroxylon Zwageri) terbesar di dunia dengan diameter 2,47 meter dan tinggi lebih dari 20 meter. Pohon itu pertama kali ditemukan oleh peneliti TNK asal Jepang bernama Watanabe pada tahun 1993 silam.

"Pohon ulin untuk menjadi kayu ulin ini menjadi incaran banyak pihak karena nilai jualnya bisa mencapai Rp 7 juta per kubik. Meski kami sudah galakkan patroli rutin, karena banyak yang mengincar, aksi illegal logging tetap saja terjadi di TNK. Ini sangat memperihatinkan karena juga melibatkan oknum aparat," sebut Erli.

Begitu tiba di Sangata, rombongan terus melanjutkan perjalanan ke Desa Kabo Jaya, yang masih berada di Kabupaten Kutai Timur. Dari desa itu, para jurnalis kembali melanjutkan perjalanan ke Prevab Mentoko, sebuah kawasan hutan yang menjadi areal hutan sekunder di TNK.

Namun kali ini, dari Desa Kabo Jaya, perjalanan harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor melintasi Sungai Sangata selama kurang lebih 20 menit. Kondisi Sungai Sangata yang menjadi bahan baku air bersih warga Sangata itu pun menarik perhatian jurnalis lantaran air sungai berwarna cokelat keruh menyerupai air lumpur.

"Memang, wilayah Prevab berdekatan dengan kegiatan aktivitas tambang batu bara. Dulu, air sungai ini berwarna cokelat bening layaknya sungai yang masih perawan," terang Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sangata Hernowo Supriyanto dalam perbincangannya.

"Pernah ada penelitian di TNK yang menyebutkan bahwa kandungan kalori di TNK ini di atas 7. Lebih tinggi dari kandungan kalori sebuah areal tambang batu bara di sekitar TNK," ujar Erli menambahkan.

Perjalanan pun berlanjut. Begitu tiba di Prevab Mentoko, awak media sempat menjajal 3 kali kegiatan trekking dari 8 trek yang ada di Prevab. Hutan yang masih sangat alami, menjadikan udara sekitar begitu segar. Gemericik air anak Sungai Sangata di dalam hutan Prevab, menjadikan pengalaman trekking itu tidak mudah dilupakan.

Namun sayang, semula yang menginginkan melalui trekking bisa menemukan Orangutan Morio khas Kalimantan, hanya menemukan Tarantula dan satwa burung di malam hari. Ya, sekadar diketahui, Prevab Mentoko memang menjadi habitat Orangutan dimana peneliti dari Kutai Orangutan Project hasil kerjasama Universitas ternama di negara barat dan Balai TNK, telah menemukan 40 individu Orangutan sejak 2010 lalu hingga saat ini. Dua peneliti dari Inggris dan 2 peneliti lain dari Cekoslovakia pun saat ini tengah melakukan penelitian serupa tentang Orangutan.

Dari catatan perjalanan itu, bisa memberikan gambaran kondisi terkini TNK, yang dihimpit ancaman perambah hutan dan pembalakan liar. Sungguh menjadi ancaman serius tatkala manusia serakah berkeinginan menghabisi hutan yang menjadi paru-paru dunia, melihat dan mengetahui potensinya yang bisa mendulang rupiah cukup besar. Mari selamatkan hutan, setidaknya tidak hanya menjadi semboyan lisan! Kalau bukan kita yang menyelamatkan hutan, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

"Bahkan isu penyelamatan hutan dikalahkan oleh isu pemilihan legislatif dan kepala daerah," tegas Erli.

(trq/trq)

Foto Video Terkait

  • 6 'Orangutan' Minta Perlindungan Presiden.
  • Mengunjungi Penangkaran Macan Tutul di TSI.
  • Gubernur Riau Rusli Zainal Ditetapkan Jadi Tersangka.
  • Pohon Minimalis, Jakarta Kian Membara
  • Mimpi Didatangi Bidadari, Warga Temukan Patung di Hutan

20 Mar, 2013


-
Source: http://news.detik.com/read/2013/03/20/062346/2198472/10/taman-nasional-kutai-yang-kian-terusik-ancaman-pembalak-dan-perambah-hutan
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
Related Articles


0 comments:

Post a Comment

 
Support : blogger.com | google.com | youtube.com
Copyright © 2013. Blogger Dalam Berita - All Rights Reserved
Template Created by google Published by google
Proudly powered by Blogger