Home » » Memahami Jargon Kata ‘Berimbang’ Pada Media Pemberitaan

Memahami Jargon Kata ‘Berimbang’ Pada Media Pemberitaan

Written By Unknown on Monday, 18 March 2013 | 16:10

Salah satu jargon yang sering di gembar-gemborkan oleh media pemberitaan, baik cetak, elektronik maupun online adalah "keberimbangan" informasi. Secara nalar umum, sebenarnya kita paham, jikalau berimbang yang disampaikan oleh media tersebut adalah pemberitaan informasi yang tidak hanya menyampaikan satu sudut dari objek yang diberitakan, melainkan juga dari sisi yang lain, positif maupun negatif. Lantas bagaimana hubungannya dengan informasi pemberitaan yang akan disampaikan oleh media, jika media tersebut dimiliki oleh korporasi, tokoh, atau malah pejabat yang punya kaitan kewajiban melayani publik.

Kita tahu, jikalau media-media mainstream saat ini, beberapa diantaranya dikuasai oleh tokoh publik. Stasiun TV misalnya, ada yang dimiliki oleh tokoh publik, yang kasat mata kita bisa menilai jikalau tokoh yang bersangkutan memiliki agenda menduduki kekuasaan di Negeri ini. Maka, menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana posisi si media informasi tersebut, jika objek pemberitaannya melibatkan tokoh si pemilik media itu. Apakah secara total mengulas semua sisi, dari sang pemilik atau cukup setengah-setengah saja ? Realitanya, kita tentu sudah melihat bagaimana mereka (media-media yang 'dikuasai' tersebut) mengambil sikap di dalam pemberitaanya. Mengulas sisi positif, dan seakan-akan tutup mata pada hal negatif. Men-zoom secara umum nilai positif, tanpa mau menilik secara detil apa dan bagaimana kepositifannya itu terbangun.

Sebelumnya, diberikan Predisen SBY telah mengumpulkan beberapa Pimred Media Massa. Melalui agenda pertemuan tersebut, beliau menegaskan bahwasanya pemerintah tidak memiliki niat sedikitpun mempengaruhi pemberitaan media massa. Selain itu, media massa pun dituntut untuk tetap kritis terhadap kinerja pemerintah. Tidak mengada-ada, jika ada yang baik sampaikan baik, jika ada yang keliru sampaikan keliru. Tentu saja, bagi saya hal ini kaitannya antara media massa dengan pemerintah, dimana perhatian publik relatif lebih besar pada pemerintah, tetapi bagaimana dengan informasi pemberitaan dengan tokoh-tokoh pemilik media massa yang sebelumnya saya sampaikan, dimana perhatian publik relatif lebih kecil, karena ia belum memerintah. Tentu bahaya, jikalau tokoh-tokoh nasional tersebut diberitakan tidak secara utuh, lengkap, baik positif maupun negatifnya. Karena bisa saja, saat ia memerintah justru perihal negatifnya muncul ke permukaan.

Salah satu pengalaman saya yang dibilang cukup sedikit ini, adalah berhubungan dengan dapur salah satu media Online pemberitaan Islam. Dimana salah satu alasan penggagas media tersebut yakni membangun media online khusus yang tidak lain dan tidak bukan untuk menandingi media-media mainstream yang ada, dimana masih menurut opininya, media-media mainstream yang ada saat ini sudah keterlaluan dalam memojokkan Islam secara umum. Well, media untuk mengimbangi informasi ataupun opini yang dibangun media mainstream dalam hal informasi-informasi pemberitaan Islam menurut saya memang perlu untuk diwujudkan. Tentu, hubungannya nanti adalah perspektif sudut pemberitaan. Jikalau media-media umum mengulas suatu hal informasi dari perspektif A secara massif, maka perlu juga diulas perspektif lain dari sudut B. Dan itulah visi keberimbangan yang sejati, yang seharusnya dimiliki oleh media.

Salah satu kasus yang coba saya soroti adalah objek pemberitaan mengenai teroris dan Densus 88. Di media umum, mungkin kita tahu bagaimana sepak terjang Densus 88 menumpas gerakan teroris yang sudah sangat meresahkan bangsa ini. Mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan dan cukup mampu untuk dibanggakan oleh masyarakat sekarang ini. Tetapi, bagaimana sudut pemberitaan dari sisi orang-orang 'diduga' teroris itu? Faktanya, ada juga orang-orang yang diduga teroris tersebut, akhirnya dilepaskan karena tidak tersangkut kasus terorisme. Dan orang-orang yang 'salah tangkap' itulah yang biasanya dikupas habis media Islam ini.

Bagi saya, betul sekali orang-orang yang salah tangkap tersebut perlu dibela dan menjadi kritikan keras bagi Densus, dimana biasanya orang-orang yang salah tangkap tersebut adalah seorang muslim. Media Islam dan seharusnya media-media umum lain wajib menyampaikan berita tersebut, bahkan kalau perlu mem-blow-up nya, sebagai bukti asas keberimbangan. Tetapi tentunya, kita juga jangan pernah melupakan esensi dari terorisme itu sendiri. Bahwasanya, terorisme adalah kejahatan sosial yang perlu dibasmi. Dan bagi saya, Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Wallahu 'alam. Itulah yang saya sendiri amati, luput dari pemberitaan media Islam tersebut. Mereka cenderung fokus pada kesalahan Densus, tanpa menyampaikan secara utuh pula esensi terorisme dan apa dampaknya pada masyarakat umum, secara khusus pula dampak negatif pada citra agama Islam. Jangankan, mengulas informasi nyata dilapangan mengenai kasus terorisme, edukasi pun rasa-rasanya jarang disampaikan oleh redaksi media Islam tersebut. Saya sendiri Insya Allah masih ber-khusnudzon, jikalau media Islam ini, masih banyak dan bahkan sangat banyak pemberitaan positifnya yang masih sangat layak untuk dikonsumsi masyarakat, khususnya masyarakat Islam.

Dari asas keberimbangan ini, tentu tujuan utamanya adalah sajian informasi secara utuh kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat bisa menilai suatu kasus. Dan dari situ bisa memutuskan langkah-langkah di dalam kehidupannya. Langkah politik misalnya dalam memilih calon pemimpin. Atau mungkin menetapkan prinsip dan pemahaman baru di dalam beragama. Karena, peranan media dalam membangun mindset dan pola pikir kepada masyarakat sudah tidak bisa diragukan lagi. Jangan sampai, justru karena media, timbul perpecahan, karena informasi fitnah yang ditebar, atau informasi yang tidak utuh postif dan negatifnya terhadap calon pemimpin.

Akhir kata, semoga media-media yang dikuasai tersebut, berjiwa besar untuk menyampaikan benar adalah benar, keliru adalah keliru. Dan bagi si pemilik media mungkin bisa meniru langkah "Pak Beye" dalam menegaskan posisinya terhadap semua media massa.

Kompasiana, salam.

Daniezya Achmad 19 Mar, 2013


-
Source: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/03/19/memahami-jargon-kata-berimbang-pada-media-pemberitaan-538372.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
Related Articles


0 comments:

Post a Comment

 
Support : blogger.com | google.com | youtube.com
Copyright © 2013. Blogger Dalam Berita - All Rights Reserved
Template Created by google Published by google
Proudly powered by Blogger